Pembuatan Pupuk organik Granul

Pembuatan pupuk organik granul yang dijelaskan disini adalah pembuatan pupuk organik granul yang telah sederhana

  • Pupuk organik granul dapat dibuat dari berbagai macam bahan dasar. Bahan dasar yang dapat digunakan antara lain kompos (baik kompos daun, limbah pertanian, limbah rumah tangga, dll), humus maupun pupuk kandang. Secara khusus yang dibahas disini adalah pembuatan pupuk organik granul dengan menggunakan pupuk kandang sapi khususnya sapi selain sapi perah.

Pupuk kandang ini kemudian dikeringkan dengan menjemur atau dengan menggunakan mesin pengering. Pupuk kandang yang sudah kering ini kemudian dihaluskan. Untuk menghaluskan dapat hanya diayak dengan menggunakan pengayak pasir bangunan, ditumbuk kemudian diayak, atau digiling dengan mesin giling kemudian diayak. Hasil pengayakan ini akan sangat menentukan hasil pupuk organik granul yang akan dihasilkan. Semakin halus hasil ayakan maka granul yang dihasilkan semakin mulus. Sebaliknya jika hasil ayakan lebih kasar maka permukaan granul yang dihasilkan akan lebih kasar.

Selanjutnya ambil 85kg pupuk kandang yang sudah diayak kemudian tambahkan bahan abu 2,5kg, kalsit 2,5kg dan 10kg perekat (ini komposisi yang biasa kami gunakan). Jika diperlukan dapat pula diperkaya dengan bahan-bahan organik lainnya (misal phospat alam atau unsur hara lainnya).

Granulasi

Ada beberapa teknik granulasi yang bisa dipakai.

  1. Teknologi tiwul.
    Yang dimak teknologi tiwul disini adalah granulasi yang meniru pembuatan tiwul. Alat yang digunakan adalah nampan (dalam bahasa jawa tampah). Pertama, ambil campuran bahan kurang lebih 500gram. Jika terlalu banyak akan menyebabkan kesulitan dalam proses pembentukan granul. Kemudian tambahkan air secukupnya. Langkah selanjutnya adalah pembentukan granul dengan menggerakkan nampan seperti membuat tiwul (dalam bahasa jawa disebut diinter).
     
  2. Menggunakan Molen Pengaduk Semen.
    Masukkan campuran secukupnya ke dalam molen (lebih kurang 50kg). Kemudian tambahkan air sedikit demi sedikit. Penambahan air ini harus sedikit demi sedikit untuk mengurangi terjadinya penggumpalan. Jika air sudah cukup, kemudian tunggu sebentar sehingga terjadi pembentukan granul yang sempurna.
     
  3. Pan Granulator
    Pan granulator ini berbentuk piringan yang berputar. Cara kerjanya kurang lebih sama dengan menggunakan nampan.
     
  4. Mesin Pan Granulator ukuran Besar.
    Mesin ini biasanya yang digunakan pada pabrik-pabrik besar. Kapasaitas produksinya mencapai 10ton perhari.
     

Pengeringan

Setelah proses granulasi selesai, selanjutnya adalah tahap pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penjemuran dengan bantuan sinar matahari atau dengan mesin pengering.

Jika dengan menggunakan cara pertama yakni dengan menggunakan bantuan sinar matahari dibutuhkan waktu seharian untuk pengeringan ini. Pengeringan dengan cara in sangat bergantung pada cuaca saat pengeringan. Jika menggunakan mesin pengering (rotary dryer misalnya) maka waktu yang dibutuhkan akan lebih sedikit dan tidak tergantung dengan cuaca.

Penyortiran

Langkah selanjutnya adalah penyortiran. Penyortiran ini dimaksudkan untuk memisahkan granul-granul yang tidak sesuai ukurannya dengan kebutuhan yang diperlukan. Penyortiran ini dapat dilakukan dengan manual, yakni dengan mengamati dan memisahkan granul yang tidak sesuai ukurannya. Dapat juga menggunakan kawat kasa yang sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Biasanya ukuran untuk pupuk organik granul adalah diameter 2-5mm.


Pengepakan

Langkah selanjutnya adalah pengepakan. Pupuk organik granul yang sudah disortir selanjutnya siap dipacking dan siap dipasarkan.

Sumber: http://p3og.co.cc/ppog.php


 
 
   
    Copyright@didikbudiarto